Lingkaran Rampok

https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fi.pinimg.com%2Foriginals%2Ff7%2F8f%2F68%2Ff78f68da41cca052aa561563a1dd76b3.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.pinterest.com%2Fpin%2F442760207117088012%2F&tbnid=XctTbuUegpFoKM&vet=1&docid=49nCHWtUIU9q3M&w=600&h=459&hl=en-GB&source=sh%2Fx%2Fim

Portal berita di televisi digegerkan dengan berita tentang seorang perampok yang kabur dari penjara. Sangat disayangkan, mengapa penjara dengan teknologi canggih itu bisa kebobolan? Pasti petugasnya lalai. 

 

Hari itu serine mobil polisi meraung-raung, memadati jalanan kota yang setiap hari sibuk. Polisi memburu perampok itu dan menetapkannya sebagai buronan. Gambar sketsa wajahnya tertempel di tiap sudut bangunan kota, tiang listrik, dan pohon di pinggir jalan. 

 

Katanya, perampok itu memang andal. Ia sangat susah ditangkap umpama belut yang licin. Ia bisa mencuri apa saja tanpa ketahuan. Tindakannya sangat tertata rapi sampai-sampai polisi kewalahan. Berita itu jadi trending beberapa hari, sampai suatu ketika ada seorang ibu-ibu yang mengaku kehilangan uang dan perhiasan dalam lacinya. Ia gegas melapor ke kantor polisi dan polisi langsung menduga bahwa perampok yang kabur dari penjara itulah pelakunya. Namun, itu hanya dugaan sementara. Seorang petugas polisi ditemani dengan seorang detektif bernama Pet langsung menuju tempat kejadian. 

 

Detektif Pet adalah seorang detektif terkenal di kota. Ia sudah menyelesaikan berbagai kasus kriminal. Ke mana-mana, Detektif Pet selalu membawa kucing kesayangannya, Peter. Dialah partner kerja yang selalu membantu Detektif Pet dalam menyelesaikan kasus. 

 

"Bisa kau ceritakan bagaimana kronologinya?" tanya Detektif Pet kepada Ibu itu. 

 

 

"Aku tak tahu pastinya. Waktu itu aku pergi ke pasar dan saat aku pulang, uang dan perhiasanku sudah tidak ada. Semuanya hilang."

 

 

"Apa ada orang lain yang tinggal di rumahmu?"

 

"Tidak. Dulu, aku punya dua orang pembantu. Yang satu tukang kebun dan satunya lagi juru masak. Akan tetapi, mereka sudah tidak bekerja di sini lagi."

 

Detektif Pet mendekati ranjang. Tepat di sampingnya ada jendela. Oh, ya! Jendela. Detektif Pet buru-buru mendekat ke jendela yang tidak tertutup itu. Ia dapati sehelai rumput yang tersangkut di gorden jendela itu. 

 

"Ada rumput," tutur Detektif sambil mengambil sehelai rumput itu. "Ma'am, boleh kutahu alasan tukang kebun itu resign?"

 

Ibu itu langsung mengingat sesuatu. 

 

"Dulu, aku pernah memotong gajinya karena ia tak sengaja memotong tanaman anggrek kesayanganku yang harganya sangat mahal. Esoknya ia minta resign."

 

Beranjak dari penjelasan itu, Detektif langsung meminta alamat rumah mantan tukang kebun dan menuju ke sana. Bisa jadi tukang kebun itu menyimpan dendam dan cara membalasnya dengan mencuri perhiasan mantan majikannya. Sesampainya di sana, Detektif langsung menginterogasinya, tetapi mantan tukang kebun itu malah marah-marah. 

 

"Asal kau tahu, ya! Meskipun aku miskin, aku masih punya harga diri. Aku tidak mungkin mencuri," umpatnya. Lalu, ia membanting pintu dengan keras. 

 

Detektif kembali dengan tangan kosong. Sebelum mendalami kasus itu, ia menikmati secangkir teh melati untuk menenangkan pikirannya. Aroma melati sungguh menyegarkan. Tiba-tiba kucingnya, Peter, lompat dari pangkuannya dan menuju kamar ibu itu. Ia pun membuntutinya dari belakang. 

 

 

"Meow!" 

 

"Meow!"

 

Peter mengendus laci nakas. 

 

"Meow!"

 

Detektif Pet langsung mendekat. Peter menunjukkan gelagat aneh dan langsung dipahami oleh Detektif. Ia mengelus laci itu secara perlahan, kemudian menghidu tangannya. Aroma parfum melati melekat di tangan. Seolah tidak puas dengan itu, ia mengerucutkan bibir dan menajamkan hidungnya tepat di atas laci itu. 

 

"Meow!"

 

"Ya, kau benar, Peter. Ini aroma parfum melati."

 

"Melati?" tanya ibu itu.

 

"Apa kau suka memakai parfum melati, Ma'am?"

 

"Tidak, Tuan." Ia berpikir sejenak. "Oh, ya! Aku ingat. Mantan juru masakku suka sekali memakai parfum melati, hingga masakannya pun kadang sampai berbau melati. Aku suka mengeluh padanya sebab aku tak suka parfum itu. Aku memintanya untuk tidak memakai parfum saat memasak, tapi ia tidak mau. Akhirnya, dia resign."

 

Detektif meminta alamat rumah mantan juru masaknya. Tiga menit berlalu, ia dan petugas polisi itu sampai ke tempat tujuan. Rumah itu sunyi. 

 

"Permisi." Polisi itu mengetuk pintu, kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang perempuan membuka pintu.

 

Wajahnya langsung pucat pasi. Ia pasti amat terkejut ketika melihat polisi dan Detektif Pet. Belum sempat berkata-kata, perempuan itu malah menangis. Ia menutupi wajahnya yang memerah. 

 

 

"T-olong maafkan aku." Ia memohon sambil tersesdu-sedu. 

 

"Baik. Kau bisa menjelaskan ini di kantor polisi."

 

Alasan perempuan itu mencuri uang dan perhiasan mantan majikannya adalah untuk biaya pengobatan ayahnya yang menderita tumor. Mantan majikannya merasa iba, tetapi perbuatannya harus dipertanggungjawabkan di hadapan hukum. 

 

 

Sementara beberapa menit selepas kepergian mereka dari rumah perempuan itu, diam-diam perampok itu pulang ke rumah, tetapi tak ditemui seseorang di dalamnya. 

 

"Istriku! Istriku!" pekiknya. "Aku bebas! Istriku, aku telah mendapat uang untuk biaya berobat ayahmu!" Tidak ada jawaban. Hanya hening yang memantul-mantul. Suaranya menggema.  

 

"Istriku, di mana kamu?" Ia masih berharap mendapat jawaban dan sambutan hangat dari istrinya. Ia tak pernah tahu kalau istrinya telah dipenjarakan.[]

 

 

Tanggamus, 13 April 2022

 

#CerpenMisteriRamadan