"Tolong, tolong, tolong! Ada perampok di rumahku!"
Kali ini Mark mencoba untuk mengabaikannya dan menanyai tentang alamat dengan malas-malasan. Namun, sebagai petugas keamanan, ia harus melayani orang-orang meskipun teramat malas.
"Tapi boong! Hahaha!" suara cempreng sekumpulan remaja baru tumbuh membuat Mark naik pitam.
Tut, tut, tut! Telepon dari seberang sana memutus sambungan.
"Bocah sialan!"
Mark menjatuhkan telepon dengan keras hingga meja berdentam. Rekan kerjanya seketika menoleh, heran dengan kelakuannya. Hal itu bukan pertama kalinya terjadi. Bocah-bocah usil sering kali menelepon nomor kantor polisi untuk main-main. Mereka tidak tahu bahwa menyelamatkan nyawa itu sangat penting. Nomor itu bukan untuk mainan.
"Argh!"
Mark mengacak kacau rambutnya, kemudian merebahkan punggung di kursi. Sebagai seorang petugas kepolisian, kadang ia merasa jenuh, tentu sebab ia hanya manusia biasa, bukan superhero yang bisa siap siaga kapan pun, datang dalam kedipan mata untuk memberantas aksi kriminal.
Ia punya batas sabar, tetapi ketika bertugas ia harus tampak ramah dan terlihat tidak ada beban, meskipun dalam hati ia ingin berlibur sejenak meninggalkan kursi dan gagang telepon di kantor. Kadang, orang melihat polisi sebagai seorang kriminal yang bersembunyi dalam seragam, juga dalam kedok mengayomi masyarakat. Itu semata-mata dilakukan untuk menertibkan kerukunan meski orang-orang menganggapnya dengan hal lain.
Berangkali sudah banyak yang tidak memiliki kepercayaan lagi kepada polisi. Terlebih para remaja yang sering terlibat aksi tawuran dan tertangkap saat balapan liar. Mereka hanya menganggap petugas kepolisian tak lebih hanya sebagai pengganggu. Bisa jadi hal itulah yang membuat remaja-remaja nakal suka usil menelepon nomor kantor polisi untuk bahan hiburan.
Mark melihat jarum jam yang perlahan bergerak menuju angka empat. Hening sesaat merayapi ruangan sebelum kemudian dering telepon mengudara lagi.
"Ah, anak-anak itu lagi!" batinnya.
Bagaimanapun, ia tak bisa mengabaikan telepon itu. Lagi-lagi dengan malas ia angkat telepon. Toh, sebentar lagi ia akan berganti shift dengan rekannya.
"T-olong, ...." suara yang lirih, parau, dan sangat dalam. Bukan suara remaja.
"Halo! Dengan siapa? Ada yang bisa dibantu?" Kali ini Mark menanggapinya dengan serius.
"P-erampok, ...."
"Halo! Bisa bicara lebih jelas?"
Sambungan tiba-tiba terputus. Mark buru-buru mengambil notebook. Seolah ada gelagat yang tidak biasa, Mark memberikan kode berupa lambaian tangan kepada rekannya dan kemudian dua rekan mendekat untuk membantunya. Yang satu melacak nomor telepon, yang satu bersiaga dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Mendadak telepon berdering lagi.
"To-long, ... P-erampok!" Kini suara itu bergetar seolah menyimpan takut yang teramat sangat.
"Halo! Baik, baik! Sekarang tenang dan beri tahu kami alamat saudara." Mark telah siap dengan catatan kecil dan pena di tangannya.
"J-jalan M-mawar 13!" Bug! Bug! Prang! Suara kekacauan dari seberang. "Argh! To-long!"
Tut, tut, tut! Telepon Senyap. Dau petugas kepolisian buru-buru melaju ke tempat kejadian. Persenjataan telah lengkap disiapkan.
"Jalan Mawar No. 13?" Salah satu petugas bertanya-tanya? "Bukankah dulu pernah ada perampokan dan pembunuhan di sana?"
"Seingatku iya dan sampai sekarang kita tak pernah tahu siapa pelakunya."
"Damn!"
"Sungguh misteri. Untungnya, segera ada kasus lain untuk menutupi kasus mengerikan itu dan orang-orang seketika melupakannya."
"Setidaknya reputasi kita sebagai polisi bisa diselamatkan dan kepercayaan rakyat kembali."
"Kali ini aku tidak akan melepaskannya!"
"Tentu!"
Kedua petugas itu melaju ke sebuah perumahan, tapi dalam penglihatan yang mereka tangkap rumput-rumput tinggi, ilalang, dan tanaman yang menyulur kebanyakan mendominasi rumah. Deretan rumah itu seperti tak berpenghuni.
"No. 13!"
"Ayo, cepat!"
Mereka mengendap dalam senyapnya suasana sore. Pistol telah siap di tangan dan jari telunjuk telah siap untuk menarik pelatuk. Pintu bernomor 13 mereka dobrak dalam hitungan ke tiga. Knop pintu lepas terpelanting ke lantai. Ketika pintu terbuka seorang nenek tengah duduk di kursi roda sambil gemetar ketakutan. Keriput yang bertumpuk itu seakan hendak jatuh. Mereka berdua seolah bisa membaca ketakutan itu dari wajah nenek tua yang pucat pasi.
"Oh, Tuhan! Syukurlah kalian datang," tutur nenek itu.
"Kau baik-baik saja, Ma'am? Apa ada yang terluka?" tanya salah satu petugas. Yang satu lagi memeriksa sekitar rumah. Nenek itu menggeleng seolah tidak ada yang terjadi, tetapi ia masih tampak takut.
"Baiknya Anda segera menunggu di luar dulu. Kami akan memeriksa rumah Anda."
Polisi itu mendorong kursi roda ke luar rumah, tetapi nenek tua itu menghentikannya.
"T-idak, t-idak! Kalian tidak usah khawatir. Perampok itu telah kusekap dan ikat. Kini mereka ada di dalam kamarku. Mari kutunjukkan pada kalian."
Dua polisi itu bingung dan saling tatap. Bagaimana bisa seorang nenek yang duduk di kursi roda mengikat seorang perampok? Namun, toh, mereka seolah terhipnotis dan sekonyong-konyong mengikuti nenek itu menuju kamarnya.
"Itu di sana." Nenek itu menunjuk lemari kayu besar. "Kuharap dia tak kehabisan oksigen."
Dua polisi itu mendekatinya dengan hati-hati. Pistol tetap siap di tangan. Terdengar ada suara dari dalam, suara yang lirih dan parau, memanggil-manggil minta pertolongan. Ketika lemari kayu itu dibuka, alangkah mereka terkejut. Bukan perampok yang ada di dalam, melainkan seorang wanita muda dengan mulut tertutup bandana dan air mata yang berlelehan.
Kedua petugas polisi itu menengok ke belakang dengan cepat, tetapi nenek tua itu sudah tidak ada. Yang mereka lihat kini hanya seekor makhluk aneh yang tidak ada dalam imajinasi mereka, besar, dan tinggi yang makin besar selepas kedua polisi itu terkapar. Sementara wanita muda dalam lemari kayu itu hanya bisa berteriak dalam diam. Diam sebagai umpan.[]
Sumberejo, 11 April 2022
#CerpenMisteriRamadan