Sebelum Tuhan Memanggil

Dokpri diolah dari aplikasi Canva

Sebelum dipanggil Tuhan kata Meisaroh kepada sang suami seperti ini.

"Aku rindu dengan Ibu, emas. Izinkan aku tinggal di sana."

"Tidak, Mei. Kau sudah tanggung jawabku. Kau sudah menjadi istriku jadi baktimu ke suami, bukan lagi ke orang tua mu."

"Tetapi, emas. Aku sudah bermimpi yang ketiga kalinya ibu meninggal  para tetangga menyalahkan kita karena meninggalkan ibu sendirian di rumah."

Suaminya membalikkan posisi badan miring-- berbaring dengan menatap hangat sang istri. Menjadikan kasur busa yang mereka tiduri makin menipis. 

"Mei, kadang mimpi tak benar-benar nyata, ada campur tangan setan di dalamnya."

Meisaroh keberatan dengan tanggapan suami. dia yakin mimpinya adalah sebuah pertanda buruk dikemudian hari.

Melihat dalam mimpi ibunya di dalam ruangan yang gelap  ditanya oleh Malaikat pencabut nyawa. Sang ibu menyampaikan sesuatu bahwa sebelum nyawanya diambil pertemukan beliau kepada Meisaroh. Mendengar ucapan dari sang ibu batin Meisaroh bagai teriris pisau. 

Betapa setiap kali suami menengok ke rumah ibunya dengan membawakan air bersih. Ibu Meisaroh selalu menitipkan makanan. Kadang cemilan kesukaan Meisaroh, terkadang beras 5 kilo, sabun   keperluan yang dibutuhkan Meisaroh yang memang sudah habis bulan itu.

Kini dalam hati Meisaroh selalu terselip rindu yang membuncah. Meskipun kadang dia sempatkan datang menengok tetap saja hatinya menginginkan tinggal bersama sang ibu. 

Ini bukan perkara mudah, benar tidak mudah, dia harus menurunkan ego juga patuh dengan aturan suami sedangkan anak yang setiap kali singgah di rumah sang ibu selalu rewel, tak pernah betah berlama-lama.

Meisaroh terus mendoakan dari jauh doa terbaik agar sang ibu selalu diberikan kesehatan dan usia panjang.

Kala Meisaroh berkunjung, anaknya yang masih balita ada jadwal posyandu. Penimbangan anak dan juga imunisasi. 

"Ibu sehat, kan?"

Selalu pertanyaan itu yang ditujukan kepada ibunya. Jika Sang ibu sudah menjawab baik-baik saja perasaan Meisaroh akan tenang kembali sedia kala.

Tidak ada yang bisa diharapkan, siapa lagi yang akan memperhatikan ibunya jika bukan Meisaroh. Anak semata wayang dari seorang ibu tunggal yang sudah menjanda karena suaminya pergi dengan wanita lain.

Andai posisi itu terbalik, Meisaroh berada diposisi seperti itu tentu akan sangat terpukul. Dan, belum tentu kuat menerima. Tapi, Tuhan lebih tahu takaran masalah yang dihadapi. Ibu Meisaroh adalah wanita kuat.

Lihatlah wajah itu, wajah yang selalu berkaca-kaca penuh dengan rindu. Kulit yang sudah mengeriput  mata yang kendur. Apakah setiap hari ada yang memperhatikan?

Lagi-lagi Meisaroh menyalahkan dirinya yang tak becus menjadi anak. 

Tangisan anak Meisaroh menyadarkan lamunannya. Menghirup bau busuk di celana  ternyata pup. Segera Meisaroh menggantikan popok yang baru.

"Mei, ini buat jajan kamu."

"tidak usah, Bu. Ibu lebih membutuhkan uang itu ketimbang Mei."

Meisaroh menolak lembaran biru pemberian sang ibu. Ibunya punya cara lain  segera memasukkan uang tersebut ke dalam tas Meisaroh. Dia tak menyadari karena tengah sibuk mengganti popok.

i luar batas dinding kamarnya, sang ibu pamit untuk pergi ke pasar. Mungkin pulangnya agak lama. Tak ada jawaban dari Meisaroh. 

Sang ibu berjalan dibawah teriknya matahari siang, keringatnya mulai bercucuran di dahi. Tanpa ampun susah payah beliau berjalan kaki membungkuk dari jarak lumayan jauh. Jika dihitung menghabiskan 25 menit menempuh jarak dari rumah menuju pasar. Hanya untuk mencari barang bekas yang bisa ditukar oleh uang. Yang menurut orang tak berguna  jatuh ke pembuangan sampah. Lain hal dengan pemikiran ibunya-- itu barang berharga yang dapat mencukupi kebutuhannya setiap hari. Sungguh mengharukan perjuangan ibunya itu. 

Sore itu setelah usai menghabiskan kegiatan di rumah orangtuanya. Suami Meisaroh sudah datang menjemput namun ibu belum kunjung pulang.

"Emas, bagaimana? Apa kita tunggu saja sampai ibu balik?"

"Tidak, Mei. Kasihan anak kita kalau pulang kesorean di jalan sampai magrib. itu tidak baik. Sebelum waktu magrib kita sudah sampai di rumah."

Meisaroh gegas merapikan barang bawaannya, mengunci pintu rapat-rapat. Kemudian meninggalkan kunci itu di tempat penyimpanan biasa yang sudah diketahui sang ibu.

Apapun yang diucapkan suaminya, Meisaroh patuh. Jika batinnya menolak Meisaroh enggan mendebat. Karena ujung-ujungnya Meisaroh lagi yang mengalah.

Ternyata hari itu adalah hari musibah ibu. Hari yang tak pernah diduga sebelumnya.

Dengan wajah muram suaminya memberi kabar.

"Mei, ibu tertimpa musibah_" Belum juga suaminya melanjutkan ucapannya Meisaroh sudah panik bukan kepalang.

"Emas, ibu kenapa? Kenapa, emas? Ibu baik-baik saja, kan."

"Kamu tenang dahulu, Mei. Ibumu cuma keserempet motor. Cuma kakinya sulit berjalan."

"Apa emas? Kayak begitu emas bilang cuma? Hah... ,  Pokoknya aku mau pulang, emas. Pulang sekarang."

Sang suami segera memeluk Meisaroh yang kini tangisnya sudah pecah. Isaknya makin kencang.

"Insyaallah semua akan baik-baik saja, Mei. Lihat anak kita, dia masih membutuhkan Asi kamu. Kamu tenang, yah. Sabar tunggu anak kita tumbuh besar. Kita bisa tinggal di rumah ibumu."

Meisaroh sudah kembali tenang. Ucapan suaminya membuat hati  pikirannya berpikir logis. Dia hanya perlu menjenguk bukan tinggal apalagi menginap di sana.

Dia pun kembali mengingat mimpinya yang salah. Beruntung ibunya masih hidup, Meisaroh masih memiliki kesempatan untuk menuangkan rindu sebelum Tuhan memanggil.

Inilah jawaban mimpinya yang berturut-turut. Jalan Tuhan lebih indah dibandingkan terus menduga-duga. Yang tahu masa depan bukan mimpi namun Tuhan yang sudah merencanakan peristiwa apa saja yang akan terjadi masih berwujud samar. 

***

Pemalang, 7 April 2022

#CerpenMisteriRamadan