Presentasi
Hari Senin akhirnya tiba, dari selepas subuh sudah aku persiapkan segalanya. Proposal untuk melengkapi presentasi hari ini serta beberapa berkas pendukung termasuk hasil riset pasar yang aku lakukan selama hampir sebulan ini. Semuanya telah siap, aku cek lagi lembar demi lembar sebelum aku rapikan kedalam map warna biru. Tak ketinggalanmemeriksa kembali laporan yang tersimpan di laptop, bahan untuk presentasi pagi ini.
Kumasukkan semua perlengkapan kerja kedalam ransel warna merah tanah kesayanganku hadiah ulang tahun dari mama, sebelum beranjak kusempatkan melirik sekilas penampilanku di depan cermin. Rok rempel hitam dengan kemeja renda putih kupadukan dengan blazer warna coklat muda. Kurasa sudah lumayan rapi dan tak terlihat membosankan. Pikiraku kembali terpecah membayangkan rapat pagi ini. Belum-belum telapak tangan sudah berkeringat dingin, deg-degan jantung berdebar tak beraturan. Heran, entah mengapa aku bisa segrogi ini padahal ini bukan presentasi pertamaku. Ini sudah biasa aku lakukan selama tiga tahun bekerja di perusahaan ini. Melakukan presentasi di depan calon klien dengan berbagai macam karakter atau di depan atasanku sebelumnya. Perasaankui biasa saja dan semua berjalan dengan lancar. Namun setiap kali melakukan presentasi di depan Pak Rangga semua terasa beda, nyaliku tiba-tiba menciut seperti keong. Hari ini pun sudah ada firasat, presentasi dan proposalku akan dibantai habis olehnya meskipun ada beberapa bagian yang sudah dibenahi seperti keinginannya. Namun tetap saja, tapi lihat saja apa yang akan terjadi hari ini.
Benar seperti dugaanku dua jam rapat serasa setahun lamanya, apa yang aku perkirakan betul terjadi. Banyak perdebatan setelah presentasiku berakhir, dia menolak sebagian banyak yang kuajukan dan aku berusaha menjelaskan secara rinci dengan penjelasan yang mudah dipahami untuk mempertahankan ide dan pemikiranku. Tentu saja aku tidak akan mengalah dan menerima begitu saja atas penolakan itu. Hasil kerja kerasku direndahkan dan dicela sedemikan rupa. Meski jujur, aku benar-benar butuh tenaga ekstra untuk menekan emosi dan air mata yang setiap saat bisa tumpah menghadapi atasan seperti dia. Aku tidak akan mempermalukan diriku dengan menangis dan memperlihatkan kelemahahanku di depan banyak orang. Tidak akan pernah kulakukan itu.
"Keila, tolong dan tolong upgrade dan perbaiki lagi. Beri aku ide segar bukan sesuatu yang biasa seperti ini. Satu lagi, aku mau minggu depan sudah ada di mejaku. Mengerti!"
"Baik, Pak. Saya usahakan secepatnya."
Itu pesan terakhir dari pak Rangga sebelum pertemuan berakhir membuat perut laparku semakin mual karena efek terlalu menahan emosi dengan perut kosong. Baru ingat, ternyata tadi pagi aku lupa sarapan karena terlalu tegang memikirkan rapat hari ini. Setelah rapat usai aku pun segera keluar ruang bergegas ke kamar mandi untuk menumpahkan air mata yang sedari tadi sekuat tenaga ku tahan, kini kubiarkan mengajak sungai di kedua pipiku, melunturkan bedak yang kupoles tadi pagi. Sedikit banyak kekesalan sudah mereda membuat perasaan sedikit lebih lega. Kuseka bekas air mata, mengeringkannya dengan tisu dari kedua mataku yang sembab lalu berusaha mengukir senyum. Meski samar terlihat ada keresahan di sana terlihat jelas dari pantulan cermin yang ada di hadapanku. "Keil, tidak ada yang bisa menjatuhkanmu, ingat itu. Kau wanita kuat jangan biarkan orang mematahkan semangatmu untuk maju. Jangan menyerah" gumamku lirih menguatkan diri sendiri untuk tidak cengeng dan mudah terbawa suasana.