Tok tok tok... Semua orang terbangun mendengar suara kentongan, pertanda ada keadaan darurat, kami semua keluar dan berkumpul di pekarangan langgar sambil membawa obor minyak tanah, setelah semua berkumpul, mang Karyo Ketua dusun mengatakan kalau Soleh temanku hilang, dia belum pulang mengaji, padahal jelas-jelas tadi dia pulang bersamaku dari langgar dan berpisah di persimpangan, lalu kemana dia sekarang? Warga pun diminta bantuan untuk mencarinya terutama kaum bapak-bapak, sementara itu ibu-ibu dan anak-anak di minta diam di langgar mengaji dan berdoa, katanya agar prose pencarian berjalan lancar, Aku mencari bersama, dan bapak-bapak yang lain, hanya bi Iyoh ibunya Jang Soleh yang kekeh ingin ikut mencari anaknya.
Kami pun mulai mencari yang dibagi empat kelompok lalu berpencar ke segala arah.
Dengan begitu diharapkan Jang Soleh bisa secepatnya di temukan, aku bapak, mang Udin, mang Jaka, A Ulum, mang Rojad ayahnya kang Soleh dan bi Iyoh, mencari di sekitar selatan perbatasan kampung dekat lapang tempat kami anak-anak kampung biasa main sepanjang hari.
malam hari kesini suasana jadi mencekam, dan Angker berbeda sekali bila siang hari.
Kami terus mencari tak ada yang terlewat namun sampai jam satu malam Jang Soleh belum ketemu juga.
Para warga mulai kelelahan dan putus asa, hingga memutuskan pencarian esok hari, tapi bi Iyoh tak setuju dia bersikeras mencari terus dan tak akan berhenti sampai ketemu katanya.
Dan dia terus mencari sampai dia berjalan ke arah pohon besar di sebelah lapang dan di sebelah lagi area kuburan.
Bi Iyoh mengelilingi pohon beringin, padahal itu sia-sia Menurutku karena kamu juga sudah mengelilingi dan tidak ada apa-apa disana.
Kami semua menatap heran padanya, kalau tidak kasihan ingin sekali meninggalkannya kaya mang Jaka, tapi tidak kami melakukan hanya melihatnya dari jauh sambil duduk di pos ronda, dan sesekali memperhatikannya.
"Mang coba bujuk lagi istrinya mau sampai kapan mengelilingi pohon itu, sudah jelas tidak ada disana, ajak pulang saja." Suruh mang Jaka. Mang Rojad Melakukannya dan beranjak menghampiri bi Iyoh, tapi lima belas menit kemudian dia kembali lagi, sambil geleng-geleng kepala, "saya sudah mengajakny pulang dan membujuknya tapi dia tak bergeming, terus saja mencarinya disana, entah ada apa sampai dia tertarik dengan pohon itu, kerrus mang Rojad,
"Kita tunggu setengah jam lagi, kalau masuk keras kepala kita terpaksa, memaksanya pulang.
Tak lama terdengar teriakan Bi Iyoh.
"Tolong... anak saya ada disini." Lolong bi Iyoh. Sontak kami berlari mendekatinya, ternyata benar saja Jang Soleh sedang duduk termenung di bawah pohon.
Namun aneh saat bi Iyoh memanggilnya dia tidak bergeming, bahkan saat kami menariknya sulit sekali badannya licin seperti belut, dan seperti ada lem yang membuat seperti nempel di pohon beringin itu.
Bi Iyoh menangis sambil berusaha menarik anaknya, namun sia-sia Jang Soleh tetap diam tanpa bergeser sedikit pun.
Lalu mang Jaka menyuruhku, untuk menemui ustadz Furqon dan meminta bantuannya, akupun segera berlari menuju langgar, setelah sampai dengan nafas ngos-ngosan, aku menceritakan yang terjadi, lalu ustadz Purqon dan bapak-bapak yang lain ikut denganku.
Dan Alhamdulillah akhirnya Jang Soleh bisa ditarik oleh bi Iyoh setelah sebelumnya di kasih doa dulu sama ustadz Furqon.
Dan akhirnya Jang Soleh bisa di bawa pulang dengan di tandu oleh bapak-bapak.
Kata ustadz Purqon ternyata Jang Soleh di sembunyikan jin penunggu pohon. Setelah sebelumnya di ajak main dulu oleh teman bayangannya.