“ Yung, Biyung sini temani aku bermain,” rengek seorang bocah kecil bernama Sum pada ibunya.
“ Iya Nak,” Jawab seorang wanita muda berusia sekitar 28 tahunan, yaitu ibu dari sang bocah perempuan.
Segera wanita itu menghampiri putri kecilnya yang baru berumur 5 tahun. Dengan senyum getir di bibir. Dia membelai lembut kepala anaknya yang tengah asyik bermain tanah. Langit sore mulai redup. Awan-awan berwarna jingga menggantung indah di langit tua. Sesekali pandangan mata sang wanita mengarah pada jalan setapak kecil di antara rimbunan pohon dan belukar yang tak lebih rendah dari pinggang orang dewasa.
Gundah tampak selimuti raut wajah. Ibu muda itu bernama Sarwen. Pagi tadi sang suami berpamitan pergi ke pasar untuk membeli lauk, dan petis udang sebagai pelengkap makan. Tetapi sampai senja membayang sang pujaan hati tak kunjung datang. Siang tadi hasil belanjaan sang suami di titipkan pada kerabatnya. Dan hanya sebuah pesan singkat yang disampaikan. Bahwa dia akan singgah sebentar ke rumah orang tuanya.
Kenapa tak bicara saja kalau mau menginap. Dan kenapa tadi hanya berpesan mampir sebentar ke rumah orang tua. Tapi sampai senja berubah gelap tak kunjung pulang. Berjuta kata tanya terus mengacak pikiran Sarwen. Ada apa? kenapa? Tapi semua tak mampu terjawab. Pohon dan semak belukar hanya membisu, tak ada yang mampu menjawab semua tanya. Malam semakin membungkam sepi, resah terus merajalela mencabik batin dan jiwa.
“Yung, kenapa Bapak belum pulang,” Tanya sang anak menambah rasa gelisah berkecamuk di dada Sarwen.
“Dia menginap di rumah Kakek, sudah ayo kita tidur ini sudah malam,” Jawab sang ibu menghibur putrinya.
Nyanyian Jengkerik dan suara binatang malam riuh terdengar. Rumah yang lebih layak disebut gubuk itu hanya diterangi sebuah pelita kecil. Sunyi, sepi, dan gelap di sekeliling, rimbun pohon dan semak belukar seakan membungkam sepi, mengurung gelisah dan sejuta tanya.
Pagi harinya, dengan menggendong putri kecilnya dia pergi ke rumah ibu mertua yang berada di lain desa. Perjalanan ditempuh dengan jalan kaki selama satu jam. Sampai di sana tak ditemuai suaminya, lalu ibu mertuanya berkata bahwa anaknya pergi ke Banten untuk bekerja.
Entah pekerjaan seperti apa yang dijalani, dari perkataan mandor yang ditemuinya setelah ia pulang dari rumah mertua, katanya sang suami bekerja sebagai buruh yang mengerjakan pembuatan jalan kereta api. Mandor juga berkata bahwa yang memerintahkannya adalah tentara Jepang.
Sarwen hanya bisa pasrah, berharap suaminya segera pulang. Namun hari berganti, bulan berganti hingga tahun pun berganti, pria yang dicintainya tak kunjung pulang. Dia menghidupi putri kecilnya dengan bertani, dan tak lupa doa selalu dipanjatkan agar suaminya kembali.
Mandor di desa berkata bahwa dia telah bertemu dengan suaminya di Banten, dan saat bertemu telah berubah menjadi gagah perkasa, serta telah menikah lagi. Namun Sarwen tak percaya begitu saja pada ucapan sang mandor, ia tahu suaminya setia. Karena itu dirinya pun akan selalu menjaga kesetiaan hingga suaminya puang.
Tinggal dalam gubuk reyot di tengah hutan adalah hal yang tidak mudah bagi seorang wanita. Ancaman datang dari berbagai penjuru mulai dari binatang buas hingga tentara yang mengintai dari udara dengan helikopter. Jika tampak mencurigakan, bukan tidak mungkin ada peluru yang ditembakkan dari atas sana.
Dengan berbekal keyakinan bahwa suaminya akan Kembali, Sarwen mencoba kuat dari godaan pria yang ingin mempersuntingnya karena merasa kasian melihat hidup dalam kemiskinan tanpa suami.
Malam pekat tanpa bintang, awan hitam penuhi angkasa, sesekali kilatan petir menyambar. Lolongan serigala hutan bersahutan, menambah kengerian. Hujan deras pun turun membasahi semesta, Sarwen mendekap erat putrinya yang tengah lelap tertidur, menutupi dengan kain jarik yang telah lusuh agar tampias dari atap tak membasahi tubuh anaknya.
Doa terus dipanjatkan sederas hujan di malam itu, memohon perlindungan agar atap gubuknya tak terbang tertiup angin. Hingga sepertiga malam, hujan baru reda. Sarwen mencoba memejamkan mata hingga subuh datang. Biasanya jika hujan turun seperti itu, ada suami yang menjaganya hingga mereka bisa tidur lelap tanpa rasa takut. Tapi entah sudah berapa lama pria yang dicintai tak lagi di sisi.
Ada kabar dari desa-desa sebelah bahwa ada sebagian para pekerja dari Banten pulang dalam kondisi sakit parah, ada pula yang dikabarkan meningal dunia tanpa dipulangkan jenazahnya. Hal itu membuat Sarwen cemas, hingga ia pergi bertanya lagi pada mandor. Jawaban yang ada tetap sama, bahwa suaminya sekarang gagah perkasa dan telah menikah, tidak seperti mereka yang dipulangkan.
Pilu hati tak ada tempat berbagi, hampir setiap malam dia menangis saat putri kecilnya tertidur, dan doa tak pernah henti dipanjatkan. Tanpa terasa hampir tiga tahun telah berlalu, putri kecilnya telah tumbuh lebih tinggi. Doa yang setiap hari dipanjatkan tiada sia-sia. Suami yang dicintainya pulang.
Tangis bahagia dan sedih pecah tak terbendung, menyaksikan kondisi pria yang dicintainya kini. Tubuhnya kurus kering, lemah dan sakit. Tidak seperti yang diceritakan mandor. Dia juga mengenakan pakaian yang sudah tak layak pakai lagi, penuh robek di sana sini. Kondisi yang serupa juga pada kain sarung yang dibawa saat berangkat. Selain robek hampir di semua bagian sudah dijahit sekadarnya agar masih dapat dipakai.
Tubuh kurus kering, sakit, dan beberapa luka membuat hati Sarwen hancur. Di sela isak tangis ia mencoba bertanya pada sang suami tentang apa yang terjadi. Pria itu menjawab dengan suara lemah sembari berbaring di atas dipan di gubuk yang lama dirindukan. Butiran air tak henti bergulir membasahi pipi keriput.
“Aku dipaksa ikut ke Banten untuk bekerja, katanya di sana bisa dapat banyak uang. Hari itu aku bahkan tak boleh berpamitan padamu, maafkan aku.” Ucapnya.
“Sudah lupakan itu Kang, aku ingin tahu apa pekerjaanmu di sana hingga pulang dalam kondisi begini?” tanya Sarwen.
“Aku bekerja membangun rel kereta api, kata mereka jalurnya dari Saketi ke Bayah, di sana ada ribuan pekerja dari berbagai daerah,” lanjutnya.
Hingga pagi menjelang, pria bernama Suryana terus bercerita. Tempatnya beristirahat hanya berupa bedeng berukuran 10 x 15 meter, dan dihuni sekitar 100 orang. Mereka menggunakan daun dan apa saja yang didapat agar tak tidur beralaskan tanah. Bukan hanya itu, mereka juga hanya diberi makan seadanya dan hanya satu kali sehari. hingga banyak di antara mereka yang jatuh sakit hingga meninggal. Pria itu mengenyit menahan tangis saat mengingat masa kelamnya. Tangan yang dulu kekar dan legam kini telah berubah, jemari kurusnya membelai lembut rambut sang istri.
“Sudahlah, simpan saja cerita ini, yang penting sekarang aku sudah pulang. Meski aku tak sekuat dulu, tapi pasti aku bisa menjagamu,” ucap Suryana sebelum memejamkan mata.
Mereka saling berpelukan dalam bahagia dan pilu, karena bisa kembali pulang sudah merupakan anugerah yang harus disyukuri.
Butiran air yang tadi tampak menggantung di bawah mata, perlahan bergulir jatuh membasah di pipi. Rambut putih, mata yang tak lagi jernih, kulit keriput membalut tulang, serta otot tua tampak menonjol di bawahnya. Wanita tua itu nenekku. Air mata yang luruh mengenang kisah puluhan tahun silam, saat dirinya masih muda. Sekilas tampak kesedihan terpancar dari redup matanya. Terbata dia mengakhiri ceritanya.
“Kakekmu hanya menemani kami sebentar setelah kepulangannya. Tepatnya tak lama setelah ibumu lahir, dia meninggalkan kami untuk selamanya. Dan ibumu tak pernah tahu seperti apa wajah bapaknya.” Jelasnya dalam tangis.
Purbalingga, 15 Oktober 2023