Melati dan Dupa di Taksi Online

Makam

Hari sudah sekitar pukul 8.30 malam. Langit kota Jakarta mendung berawan gelap dan hujan rintik-rintik mulai membasahi bumi. Linda baru saja turun dari kantornya di lantai 22 sebuah gedung perkantoran di Jalan Sudirman, biasanya dia pulang naik MRT ke rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Namun karena hujan, kali ini dia memesan taksi online.

Langit kian gelap dan hujan rintik-rintik berubah menjadi hujan lebat. Tidak lama kemudian aplikasi di handphone Linda menunjukkan nama, nomor polisi dan jenis kendaraan. Walau di aplikasi seharusnya adalah mobil Avanza warna putih, tetapi Linda mendapat pesan dari pengemudi yang bernama Ganda bahwa dia membawa mobil Brio warna hitam.

“Maaf mobil Avanza putihnya lagi masuk bengkel,” demikian pesan di aplikasi sekaligus meminta Linda untuk bersabar menununggu karena jalanan lumayan padat.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, sebuah mobil Brio Hitam muncul di lobi dan Linda segera naik. Mobil kemudian bergerak menyusuri Jalan Sudirman menuju ke arah Selatan. Sang sopir hanya mengangguk dan mengucapkan selamat datang.

Hujan makin lebat dan pemandangan di luar hanya lampu jalan dan lampu mobil yang berderet rapat karena padatnya lalu lintas. Sekitar 5 menit kemudian, Linda melihat keluar dan sempat melihat  Patung Pemuda menandakan kendaraan baru melewati Bundaran Senayan.

Namun, tiba-tiba saja Linda merasa ada yang aneh di mobil ini, ada harum bunga melati yang kadang muncul kadang menghilang. Dan Linda juga merasa bahwa di samping kanannya seakan-akan ada penumpang lain yang duduk. Namun kalau Ia menoleh ke kanan, tidak terlihat ada siapa-siapa.

Mobil terus berjalan dan ketika memasuki Jalan Panglima Polim, jalanan sudah tidak terlalu macet. Namun hujan masih terus mengguyur. Genangan air mulai tampak dimana-mana. Wangi bunga melati mulai surut, namun bau dupa mulai menyerbak di dalam kendaraan. Linda mencoba berbicara dengan sopir. Anehnya sopir seakan-akan tidak bisa mendengar suara Linda. Sesekali sopir berbicara tetapi terhadap sosok lain yang duduk di samping kanan Linda.

Linda makin ketakutan, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, mau minta turun juga tidak bisa karena sopir tidak bisa mendengar suaranya dan seakan-akan menganggap dirinya tidak ada. Linda mulai berteriak minta tolong, tetapi siapa yang bisa mendengar suaranya di dalam kendaraan yang melaju di bawah derasnya hujan di malam hari.

Mobil Brio hitam terus melaju tanpa memperhatikan teriakan Linda. Kini sudah memasuk Jalan Fatmawati. Wangi harum dupa mulai mereda dan secara perlahan digantikan dengan aroma kemenyan yang menusuk hidung. Rasa takut Linda sudah tidak terkendalikan.

“Berhenti, Stop, “ Linda berteriak. Namun sopir tetap tancap gas seperti tidak mendengar apa-apa. Dia bahkan kemudian berbicara ke penumpang yang tidak terlihat dan duduk di sebelah kanan Linda.

Tiba-tiba hand phone di tas Linda berbunyi. Dia segera membuka dan menjawab panggilan yang masuk. Ternyata dari Ganda, sopir taksi online yang dipesannya.

“Kak Linda , saya sudah 10 menit menunggu di depan lobi, namun kakak tidak muncul juga, maaf pesanan terpaksa dibatalkan,” demikian suara di seberang sana terdengar sedikit marah.“

"Tadi juga saya chat beberapa kali tetapi tidak ada jawaban,” tambah Ganda lagi. Linda lalu membuka aplikasi dan melihat beberapa pesan dari Ganda yang baru sempat dibaca.

Lalu siapa sopir ini atau saya naik mobil yang salah, pikir Linda, dia juga baru ingat tadi tidak sempat melihat nomor polisi kendaraan ini, dia hanya ingat Brio hitam sebagai pengganti Avanza putih. Sewaktu naik dia juga tidak bicara dengan sopir. Main naik dan duduk saja.

Mungkin ini adalah mobil pesanan penumpang tidak terlihat yang duduk di sebelah kanan saya? Tanya Linda kepada dirinya sendiri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena berbicara dengan sopir pun dia tidak bisa. Sopir menganggap dirinya sama sekali tidak eksis.

Linda hanya bisa terduduk membisu sambil melihat mobil yang sudah mendekati kawasan Cipete. Sedikit lagi tiba di stasiun MRT Cipete. Mobil lalu belok kiri menuju ke Jalan Cipete Raya. Bau kemenyan kembali menghilang dan aroma melati serta berbagai macam parfum kembali merebak di dalam mobil. Linda sudah tidak punya tenaga untuk berteriak minta tolong. Dia hanya duduk pasrah di dalam mobil.

Secara tidak sengaja Linda melihat ke kaca spion di depan di dekat sopir. Linda terkejut bukan kepalang. Dia tidak bisa melihat dirinya di kaca itu, dan di sampingnya duduk seorang perempuan yang cantik dan berambut panjang memakai gaun putih panjang. Dia terlihat tersenyum manis di kaca spion itu. Sontak Linda menoleh ke sebelah kanan. Ajaib! Sekarang dia bisa melihat perempuan itu.

Mobil kemudian berhenti, tepat di depan Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut. Hujan sudah reda. Perempuan itu mengajak Linda turun. Rasa takut Linda sudah hilang dan dia merasa sangat nyaman berada di sini. Tubuhnya terasa ringan. Tidak berapa lama mobil pergi menghilang.

Perempuan itu mengajak Linda memasuki areal pemakaman. Terus memasuki makin menjauh dari jalan raya. Linda merasa seakan-akan sudah mengenal perempuan ini sejak lama walau belum ingat siapa dirinya.

Mereka berjalan bergandengan menuju ke sebuah makam yang masih baru. Tanahnya masih merah dan banyak karangan bunga masih berserakan di sekitarnya. Di situ tertulis dua nama, Nama sang Ibu, Sri Hartini.yang meninggal ketika Linda masih berusia tiga bulan dan nama Linda binti Suparman yang baru saja meninggal dua hari yang lalu.

“Linda, Selamat Datang di dunia baru. Lupakan kantor dan pekerjaanmu.” Ujar perempuan itu sambil memeluk Linda.

#CeritaMisteriRamadan