Misteri Wabah Pagebluk di Kampung Badong

https://bangka.tribunnews.com/amp/2021/07/14/viral-isu-lampor-atau-keranda-terbang-sudah-pernah-diangkat-ke-film-sebenarnya-mitos-atau-fakta

Seminggu ini, sudah ada 75 orang di kampungku yang meninggal. Anehnya, yang meninggal itu masih satu lorong. Gara-gara fenomena aneh ini, muncul rumor diantara warga jika kampung mereka, yakni Badong, tengah dilanda wabah pagebluk.

Kau tahu apa itu pagebluk? Pagebluk itu penyebaran wabah penyakit. Orang-orang Jawa meyakini jika pagebluk syarat akan hal-hal mistik. Si korban siangnya kelihatan sehat wal afiat, eh esoknya sudah terbujur kaku. Jika hanya satu dua orang yang meninggal itu lumrah. Sudah kodratnya. Akan tetapi jika jumlahnya sebanyak ini, mencapai 75 orang, itu baru anomali. Pasti ada sesuatu.

Banyak yang menduga jika kematian para penduduk kampung ini ada hubungannya dengan Lampor. Hantu bernama Lampor itu kerap menimbulkan suara gaduh saat kemunculannya. Suaranya berasal dari iringan kereta kuda dan derap kaki pasukan. Skill khususnya mampu membunuh orang ketika ia sedang tidur.

Ada keluarga korban yang cukup realitis, tidak percaya dengan rumor berbau takhayul itu dan ingin membuktikannya. Ia memanggil dokter untuk memeriksa tubuh jenasah sebelum dimakamkan lalu dilakukan uji lab oleh tim medis profesional. Hasilnya almarhum dinyatakan sehat.

Jadi, benarkah kasus kematian masal beruntun di kampungku ini perbuatan hantu Lampor?

Ada pula yang berpendapat ini ulah Sang Baurekso. Sang penjaga mistis kampung ini dikabarkan sedang marah, karena sampai hari ini para penduduk desa belum menyerahkan persembahan yakni pagelaran Barongan di sendang tua yang ada di ujung desa untuknya. Pengaruh Islam di dada para penduduk kampung ditengarai membuat mereka enggan merayakan Gadeso, hari jadi kampung, dengan puncaknya pagelaran Seni Barongan. Mereka menganggap ini syirik.

Entah mana yang benar, aku pun tak tahu. Masing-masing punya hujah sendiri. Meskipun penasaran, aku tidak berniat membuktikannya. Aku ini tipe orang yang penakut, paling takut dengan hal-hal berbau mistis. Bahkan, melihat sinetron horor level rendah di siang bolong pun aku tidak berani. Apalagi ketemu hantu yang asli? Bisa kejang-kejang aku.

Malam semakin larut. Jarum di dinding sudah menunjukkan pukul 12 tepat. Akan tetapi, aku tak kunjung bisa memejamkan mata. Pikiranku masih terbayang-bayang wajah Parman, sahabatku dari kecil.

Kemarin, kami masih bercengkrama. Wajahnya sumringah menceritakan hajatnya ingin mengawini Santi, adik kelas kami di SD. Ia sudah menyiapkan mahar dan seserahan untuk acara lamaran nanti. Namun, hari ini ia sudah jadi almarhum. Pupus sudah impiannya mempersunting pujaan hatinya.

Saat itu, ia yakin Parman 100% sehat. Paginya, ia ditemukan ibunya sudah tak bernyawa. Tak ada tanda apa-apa, apalagi teriakan sakit karena sakaratul maut. Ia seperti orang tidur. Bedanya ia tidur untuk selamanya dan tidak akan bangun lagi.

Memikirkan Parman membuat hatiku gelisah. Benarkah kematian masal warga kampungku ini akibat pagebluk?

Tiba-tiba, aku merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Hawanya membuatku gelisah tidak nyaman. Hawanya itu seperti pertanda jika 'Dia' sudah datang. Dia ini maksudnya lelembut alias hantu.

Samar-samar aku mendengar deru angin berhembus kencang layaknya tornado menyapu dedaunan kering yang jatuh di tanah, menimbulkan suara berisik tertentu. Bau tidak sedap seperti kotoran babi menyeruak menusuk hidung.

"Mm..." gumamku lirih memencet hidungku sekedar menghalangi bau busuk masuk  hidungku yang membuat perutku mual.

Tanganku refleks menarik kain korden jendela di samping tempat tidurku, berniat meringankan bau busuk yang menyelimuti kamarku. Tanganku mendadak berhenti kaku pada ujung bawah korden. Tubuhku menggigil kedinginan. "Astaghfirullah hal adzim," pekikku lirih. Mataku membelalak ketakutan melihat sosok mengerikan itu sedang  berlari melintasi rumah-rumah di sepanjang lorongku.

Dari jauh sosoknya seperti kumpulan debu kotor berwarna gelap yang terjebak dalam penjara angin topan. Semakin lama ia mendekati rumahku. Sosoknya jadi kelihatan seperti Dementor dalam film Harry Potter atau malaikat kematian dalam film Final Destination. Bedanya tubuhnya kuntet dan gendut seperti tuyul. Kepalanya bulat dan besar sebesar bola basket. Bedanya dengan tuyul, yang ini bajunya hitam legam dan panjang menutupi kakinya. Jubahnya yang besar berkibar di bawah hembusan angin.

Ia kini berlari mengunjungi rumah di sampingku. Tulang-tulang di tubuhku berbunyi gemeletuk, menggigil gemetar di bawah pengaruh dominansi sosok itu. Aku ingin menarik kain korden menutupi kaca jendelaku, tapi terlambat. Aku terlanjur ketahuan.

Matanya melotot sangar menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat. Ia bergerak cepat seperti berteleportasi ke dalam kamarku. 

Aku merasa tercekik kehabisan nafas. Oksigen seperti menguap di udara begitu ia memasuki kamarku. Aku ingin lari, namun kakiku seperti dipaku, diam tak bergerak. Tanganku dengan marah memukuli kedua kaki, "Ayo bergerak!" Teriakku panik. Namun, kakiku masih membeku seperti patung. Rasa putus asa mulai menghantuiku saat aku merasakan sentuhan tangan yang sangat dingin seperti es merayap di leherku dan mencekikku yang sudah tersengal-sengal kehabisan nafas.

Untungnya, meskipun organ-organ tubuhku mogok tidak mau diajak bekerja sama, namun alam bawah sadarku menuntunku untuk melakukan perlawanan. "Astaghfirullah hal azim," rapalku melantunkan kata istighfar, memohon perlindungan dari Allah untuk menghadapi bahaya dari bangsa jin.

Aku tidak tahu sudah membaca istighfar untuk ke berapa kalinya. Aku hanya tahu bibirku sudah mulai sakit karena terus menerus beristighfar. Namun, aku tak perduli. Yang penting selamat.

Aku tidak ingat kapan makhluk itu pergi. Aku hanya merasa kekangan kuat di tubuhku mengendur dan lalu aku terjatuh ke dalam mimpi. Aku tertidur di lantai yang dingin.

"Li, bangun. Ayo takziah!"

"Takziah kemana lagi?" Pekikku terkejut. "Oh ya Allah! Ada yang meninggal lagi." Tambahnya dalam hati sedih.

"Tetangga kita shubuh ini meninggal." Jawab ibuku.

"Ada berapa Bu?"

"5 orang. Semuanya tetangga di lorong kita."

Aku tersentak kaget. Jangan-jangan... rumor itu benar. Bahwa kematian masal di desaku dikarenakan munculnya setan penebar wabah pagebluk. Dan...dan, yang semalam ku lihat itu... itu hantu penebar wabah pagebluk.

Ugh.. Aku menelan kembali air liurku susah payah. Jika benar, aku harus bersyukur karena aku selamat dari cengkeraman hantu itu.

Aku tidak tahu apakah rumor hantu lampor ataukah Sang Baurekso yang penampilannya seperti Mbah tua memakai konde dan berkebaya yang menyebabkan kematian masal di kampungku? Nyatanya kasus kematian itu berhenti usai Kampungku mengadakan Gadeso yang acara utamanya pertunjukan Barongan. Di saat yang sama hantu mengerikan yang ku lihat hari itu juga tidak muncul lagi.