Aroma Melati

Sumber foto: Google

Harum aroma melati menguar dari tubuhnya. Memang sejak dahulu, gadis itu sangat menyukai parfum beraroma melati. Sebenarnya, bukan hanya parfum, tetapi dia juga menyukai bunga melati. Sungguh suatu kebetulan karena namanya pun adalah Melati.

Aku dan Melati sudah berteman sejak kami masih kecil. Meskipun berlawanan jenis, pertemanan kami tetap terjalin erat. Teman-teman yang lain menyarankan agar aku dan Melati menjadi sepasang kekasih. Namun, perasaan kami cukuplah sebatas sahabat saja. Tidak lebih.

Tidak kupungkiri, sebetulnya aku pernah menyimpan rasa terhadap Melati. Akan tetapi, belum sempat menyatakan perasaan, ibuku sudah memberikan larangan.

"Ingat pesan Ibu, Man. Kamu boleh bersahabat dengan Melati, tetapi jangan pernah menyukainya. Apalagi berniat untuk menjadikannya istrimu."

"Memangnya kenapa, Bu?" tanyaku penasaran.

"Kalian hanya cocok sebagai sahabat, bukan sebagai sepasang kekasih, apalagi suami istri. Tanggal kelahiranmu dan tanggal kelahiran Melati saling bertolak belakang. Jika kalian memaksakan kehendak untuk bersatu, salah satu dari kalian akan mati!" Penjelasan Ibu membuatku bergidik.

Karena itulah, aku mengubur dalam-dalam perasaanku. Lebih baik kami bersahabat daripada menjadi sepasang kekasih. Aku tidak sanggup jika salah satu dari kami harus pergi untuk selamanya. Tidak akan sanggup!

Aroma melati kembali menusuk hidung. Anehnya, bukan Melati yang muncul di hadapanku melainkan Bapak. Dengan tergopoh-gopoh, beliau pulang ke rumah dan langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Sejak kapan Bapak menyukai parfum beraroma melati?

Setelah selesai mandi, Bapak langsung mencuci pakaian yang tadi dipakainya. Namun, aroma melati tetap tercium olehku. Kali ini, betul-betul Melati yang muncul di hadapanku. 

Aku menatap Melati dengan heran. Baru kali ini, wajah gadis itu terlihat pucat. Bahkan, sangat pucat. Apa yang terjadi kepadanya?

"Melati, kamu sedang sakit?" tanyaku.

Melati hanya menggeleng sembari menunduk. Dia terus menatap ke lantai. Rambutnya yang hitam, terurai menutupi wajah. Aku melangkah mendekati gadis itu. Lalu, mencoba meraih tangannya. 

"Melati, sebaiknya kamu pulang. Tanganmu sangat dingin. Sepertinya, kamu memang sedang sakit. Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" seruku sembari menarik tangannya.

Saat aku akan mengajaknya pulang, tiba-tiba Melati mengangkat wajahnya. Aku tersentak ketika menatap wajah pucat itu. Bola matanya memutih dengan bibir yang seputih kapas. Dia memelotot ke arahku.

"Ka-kamu bu-bukan Me-Melati! Siapa ka-kamu?!" tanyaku terbata-bata.

Sosok itu tidak menjawab, tetapi terdengar lengkingan yang sangat memilukan. Darah berwarna hitam terus mengalir dari hidung dan mulutnya. Aku merasa mual karena mencium bau anyir darah itu. Aku pun melangkah mundur untuk menjauhinya.

"Pergi kau! Pergi!" teriakku kepada sosok itu.

"Kenapa kamu berteriak seperti itu, Man?! Sadar, Man!" seru Ibu sembari menepuk-nepuk bahuku.

Aku terkejut. Kuusap wajahku dan mengucap istigfar. Saat kembali menatap sosok itu, dia telah menghilang. Aku pun menceritakan semuanya kepada Ibu.

"Dari tadi Ibu tidak melihat apa pun, Man. Kamu jangan suka melamun. Itu tidak baik."

"Arman tidak sedang melamun, Bu. Tadi itu benar-benar Melati yang datang," jelasku. "Apakah Ibu tidak mencium aroma melati?"

"Iya, Ibu menciumnya. Tapi, dari parfum ini." Ibu menunjukkan sebuah botol kecil kepadaku. "Ini bapakmu yang membelikannya untuk Ibu."

Aku merasa heran. Sejak kapan Bapak perhatian kepada Ibu? Sampai-sampai membelikan parfum beraroma melati untuknya. Aku tahu betul jika Bapak tidak menyukai aroma melati. Seperti bau makhluk halus, kata beliau saat itu.

***

Sudah dua hari, aku tidak bertemu dengan Melati. Karena sangat sibuk berkebun, aku belum sempat berkunjung ke rumahnya. Rencananya, aku akan menanam banyak bunga melati di kebunku. Semua itu kubuat untuk memberikan kejutan kepada Melati. Pasti gadis itu sangat senang ketika melihatnya.

Tidak terasa hari menjelang magrib. Aku segera menyelesaikan pekerjaanku agar dapat segera pulang. Saat di perjalanan menuju ke rumah, terdengar rintihan yang sangat menyayat hati. Aku memandang ke sekeliling, lalu bola mataku tertuju pada sebuah pohon beringin. Rintihan itu jelas terdengar dari sana. Aku pun mendekati pohon itu.

"Maaf, Mbak, ada yang bisa aku bantu?" tanyaku kepadanya.

Dia menghentikan rintihannya, lalu berbalik ke arahku. Aku terkejut. Ternyata, dia sosok perempuan yang pernah menemuiku waktu itu. 

"Ka-kamu?!" teriakku.

"Arman, tolong akuuu!" Suaranya terdengar parau, membuat bulu kudukku seketika berdiri.

"Sebenarnya, siapa kamu?" 

Tanpa menjawab, sosok itu berjalan, kemudian menghilang di balik pohon beringin. Aroma melati berembus menerpaku. Melati! Aku harus menemuinya!

***

Setelah menunaikan salat Magrib, aku pun pergi menuju ke rumah Melati. Di tengah perjalanan, ramai warga berkumpul. Aku menghentikan langkah saat salah satu dari mereka memanggil namaku.

"Man, apakah kamu tahu di mana Melati berada?" 

"Aku tidak tahu. Aku saja belum bertemu dengannya beberapa hari ini," jawabku, "Rencananya, saat ini aku mau ke rumahnya."

"Melati hilang, Man. Mana neneknya sedang sakit. Ini kami mau mencarinya."

Aku sangat terkejut mendengar penuturan salah satu warga. Pantas saja, akhir-akhir ini Melati tak pernah  menemuiku. Biasanya jika aku tidak datang ke rumahnya, dia yang datang ke rumahku.

Akhirnya, kuputuskan mengikuti warga untuk mencari Melati. Dengan berbekal penerangan seadanya, kami mencari Melati ke pelosok kampung. Namun, hingga menjelang malam, Melati belum juga ditemukan. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok harinya. 

Saat perjalanan pulang, indra penciumanku menghidu aroma melati. Aku memandang ke sekeliling. 

"Melati?!" panggilku ketika melihat sosok yang berdiri agak jauh di depanku.

"Armaaan, tolong akuuu!" Teriakannya begitu menakutkan. "Temukan jasadku, Man!"

Setelah berkata, sosok itu pun menghilang. Apakah dia itu Melati? Jika iya, berarti Melati sudah meninggal? 

***

Setelah melakukan pencarian selama dua hari, akhirnya Melati ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sebuah aliran sungai yang jarang digunakan warga karena terkenal angker. Anehnya, tubuh Melati masih dalam keadaan baik meskipun sudah beberapa hari mayatnya terapung. Bahkan, dari tubuhnya tercium aroma melati. 

Melati tewas karena dirudapaksa. Yang sangat menyakitkan hati, orang yang telah merudapaksa sekaligus menghilangkan nyawa sahabatku itu adalah orang yang selama ini sangat aku hormati. Dia ... bapakku.

***
Palembang, 25 Desember 2021
#LombaMenulisCerpenHororAkhirTahun