Aozora

Pixabay

 

Senja di Edo yang jingga dan temaram. Seekor bangau terbang kesakitan berupaya menembus awan.

“Aduh, sakit sekali. Rupanya anak panah itu tembus mengenai kulit. Arghhh, aku tidak kuat lagi...”

“BRUUUKKK!”

**

 

“Hei, aaada bangau terluka! Hmmm, darahnya begitu banyak. Sesesebaiknya kuobati di rururumah saja.”

“Ugh!”

“Jajajangan salah sangka. Aku orang baik. Aku tidak jahat. Jajajangan melihatku begitu.”

“Mhhh.”

“Bababagus begitu. Pejamkan matamu sebentar. Izinkan aku menggendongmu. Di rumahku ada obat untuk lukamu. Tetetenang saja.”

“Mhhh.”

**

 

“Sudah kelihatan, Kudo?”

“Entahlah. Salju melulu di sini. Tak ada bangau. Kau bantulah aku.”

“Aku kan sudah berhasil memanahnya. Giliranmu yang menangkap. Kita kan kerja kelompok.”

“Gara-gara panahmu tanggung penjahat itu bisa melarikan diri. Sekarang aku yang repot mencari. Bagaimana bisa kelihatan bangau di putih di bawah tumpukan salju. Uh, mataku lelah. Silau!”

“Cerewet kau. Ayo kubantu. Coba kita bongkar semak-semak itu. Seharusnya ia tak mungkin terbang jauh.”

**

 

“Apa, yang kau bawa itu, Pak?”

“Nanananti sasaja kuceritakan. Aaaku harus cepat mengobatinya sebelum ia mati. Tumbukkan daun secepatnya, Bbbu. Cacacampurkan dengan racikan yang biasa kubawa bila berburu di hutan.”

“Baik, Pak.”

**

 

“Sodo, kau tahu, sekarang Yohyo memelihara bangau?”

“Mana mungkin dia memelihara bangau! Tidak ada tempat untuk seekor bangau.”

“Husss! Bukan bangau itu!”

“Apa pula maksudmu? Bukan bangau itu lalu bangau apa? Sudahlah jangan melantur. Lihat sudah hampir tengah hari, baru setengah karung daun yang selesai ditumbuk.”

“Kau tidak penasaran, Sodo?”

“Huh, apanya? Soal bangau lagi?”

“Kau lihatkan Yohyo semakin kaya?”

“Aha, kau iri, Unzu!”

“Kurang ajar, kau. Kau saja yang kurang memperhatikan tetangga. Lihat, bukankah semakin lama rumah Yohyo semakin bagus? Pakaian istrinya semakin lama semakin bagus pula? Sedangkan pekerjaan mereka sama seperti kita: menumbuk daun obat.”

“Ahzzz, sudah, sudah. Masih ada dua karung daun yang harus ditumbuk. Cepat selesaikan. Senja nanti utusan tabib Tohko akan datang menagih.”

**

 

“Nah, kau sudah sembuh. Teteterbanglah, bababangau! Kembalilah pada kakakawananmu!”

“KAAAK, KAAAK, KAAAK!”

“Bodoh, kau, Pak. Bukankah bangau itu bisa kita jual di kota? Mengapa kau lepaskan?”

“Bibibiarlah, Bu. Masih ada barang lain yang bisa dididijual. Kasihan bububurung itu.”

**

 

“Kain ini sombak ori?”

“Betul, Bu. Lililihat seratnya yang halus. Lembut seseseperti bulu asli. Cocococok uuuntuk musim dingin. Betul-betul hahahangat.”

“Dari mana kau mendapat ini, Pak? Atau... Jangan-jangan kau mencuri dagangan saudagar Wan?”

“Tidak mungkin aku mememencuri. Seorang nenek menjual kain ini seharga sesesepuluh tail.”

“Sepuluh tail? Sepuluh tail, katamu, Pak?”

“Betul, Bbbu. Setelah terjual, nenek itu mau membawakan lagi kain seseseperti ini.”

“Segera jual ke kota, Pak”

“Bababaik, Bu.”

“Bila ke kota, belikan aku sisir dari alis mata serigala dan cermin dari perak bulan.”

“Dididi mana aku bisa membeli barang-barang mamamahal itu?”

“Segera jual kain sombak ori itu dengan harga beribu-ribu tail. Tentu kau bisa membeli pesananku.”

“Bbberibu-ribu tail?”

“Ya! Beribu-ribu tail!”

“Bbbagaimana mungkin laku?”

“Katakan itu kain sombak ori asli dari bulu burung bangau.”

“Baiklah, Bbbu. Aku coba. Semoga terjual.”

**

 

“Kepala divisi tombak dan panah, sudahkah kau temukan wanita itu?”

“Maaf, Jendral. Jejak darah sudah hamba telusuri tapi tidak bertemu siapa pun.”

“Bodoh! Cari yang teliti! Wanita itu adalah mata-mata dari negeri sebelah. Ahli silat dan sihir. Menurut data telik sandi, dia dikirim untuk menebar racun di sumur-sumur. Berbahaya jika sampai masuk ke permukiman.”

“Baik. Hamba cari lagi lebih teliti.”

“Prajurit Kudo, prajurit Shoko, pastikan wanita itu tertangkap. Bila perlu, bunuh saja langsung. Lekas, sebelum dia menghipnotis penduduk desa.”

**

 

“Sejak dulu dipercaya, bila menyisir dengan sisir dari alis mata serigala maka siluman akan menampakkan wujud aslinya di cermin perak bulan.”

“Lalalalu?”

“Lihatlah, siapa yang berdiri di sana?”

“Nenek baik hati yang mau menju... Hmmm... Bababangauuu?”

“Sssttt, jangan teriak. Biarkan bangau itu datang.”

“Lalalalu bbbbagaimana? Aaaku tttakut sesesekali. Kkkau sasasaja yang kekekeluar, Bbbu...”

“Ah, kau ini penakut sekali, Pak. Keluarlah. Demi kain sombak ori. Mungkin itu bangau yang dulu kau tolong. Dia menenun sombak ori dari bulu-bulunya untuk membalas budimu.”

“Lalalalu?”

“Katakan pada bangau itu, kita butuh banyak kain sombak ori untuk bahan kimono kaisar. Bila kain tidak tersedia, sekeluarga akan dihukum oleh baginda.”

**

 

“Dasar perempuan serakah. Kutenun sehelai sombak ori sebagai balas budi pada suamimu. Dan kau minta aku menenun dua helai. Lalu tiga helai. Lalu empat helai. Hingga tak terhitung uang yang kau dapat dari bulu-buluku. Kau ingin aku menenun hingga bulu-buluku habis dan mati, sedangkan kau bergelimang harta.”

“AMPUUUN... AMPUUUN... Saya tidak akan serakah lagi. Ini, ini sisa uang masih banyak. Kuberikan padamu saja.”

“Manusia brengsek! Kau pikir uang itu bisa mengembalikan bulu-buluku?”

“DUKKK!”

“ADUUUHHH! SAKIIIT! Jangan patuk kakiku! Ampuuun, Dewi Bangau.”

“JLEEEBBB!”

“AHHH!”

“Akhirnya kutemukan! Hei, wanita penyihir! Kau mau membunuh wanita desa ini? Hohoho... Tidak kubiarkan ketidakadilan terjadi di sini.”

“Hei, prajurit! Selidiki dulu! Justru wanita bodoh ini yang berniat memeras dan membunuhku padahal aku sudah berbaik hati membuatkan kain sombak ori dari bulu-buluku yang indah.”

“Aaahhh, mana kami percaya perkataan siluman bangau. Bukankah kau menyamar menjadi nenek supaya bisa memakan petani dan istrinya ini? Rasakan ini!”

“AAARGHHH!”

“Kudo, amankan petani dan istrinya. Biar bangau ini bagianku.”

“Baik! Ayo, Pak, Bu, kita keluar rumah saja. Cepat!”

“Tunggu. Jangan dorong-dorong begitu. Aku mau ambil kainku dulu. Sayang bila terkena percikan darah. Cepat kemasi sombak ori itu, Pak.”

“Bababaik, Bbbu. Tapi bababagimana dengan bangau iiitu.”

“Menyingkirlah cepat, Petani. Aku mau segera menuntaskan bangau busuk ini. HEAAA!”

“SYUUUTTT!”

“SREEETTT!”

“HIYAAA! Tamatlah kau, Bangau!”

**

 

Butir-butir salju terus berjatuhan, mengubur noda merah dan helaian bulu-bulu burung yang berserakan. Aku berharap langit biru yang terlihat dari sini mencatat kebaikanku. Semoga Shinigami mengubah aku menjadi ruh suci yang terus menjaga petani itu hingga akhir hidupnya.

**

 

Kesakitan panjang mendera seluruh tubuh burung bangau itu. Bulu-bulunya tidak lagi putih. Setelah lelah bergumul dengan darah dan air mata, ia melepas napas terakhir. Tidur panjang terasa bagaikan permata.

 

Semarang, 1 Oktober 2021

 

#lintasgenre