Arwah yang Ketakutan

Ilustrasi-Galeri Ani Wijaya

Semenjak kejadian tempo hari, aku tidak mau lagi mengunci pintu kamar mandi. Toh, di rumah ini hanya ada aku dan bibik. Ayah dan Ibu telah lebih dulu pergi meninggalkan kami. Beberapa waktu berlalu dan aku merasa semua baik baik saja.

Sampai ketika saat itu, baru saja aku selesai mandi tiba tiba pintu terkunci, macet tak dapat dibuka. Sekuat tenaga  mendorong tanpa hasil hingga akhirnya terpaksa menggedor dan berteriak minta tolong pada bik Uti.

Aku tak banyak berbicara, khawatir bibik akan panik seperti saat aku bercerita tentang langkah langkah kaki yang tetiba sering terdengar, tetapi tak ada seorang pun menampakkan diri.

Di lain waktu, saat pintu kamar mandi kubiarkan tertutup tanpa dikunci, tetiba saja terbuka lebar, disusul tiupan hawa dingin yang aneh. Begitupun jendela dan tirai kamar, berulang kali terseret dan terbuka sendiri. Meskipun aku telah memastikan gerendel terkunci dengan baik.

Bik Uti mengusulkan memanggil cenayang untuk membantu menyelesaikan masalah. Ia memiliki kenalan  dukun hebat yang bisa mengembalikan arwah penasaran ke alamnya. Tentu saja aku tidak sependapat, sejak dahulu tak pernah percaya dengan hal hal gaib semacam itu, apalagi pada makhluk halus.

Namun, semakin berganti hari kejadian aneh kian bertambah. Lampu kamar begitu sering tiba tiba menyala, padahal aku lebih senang bila lampu dibiarkan padam. Cahaya lampu membuatku silau, tak dapat beristirahat dengan tenang. 

Akhir akhir ini pun, bukan saja langkah kaki yang sering terdengar, tetapi suara dari berbagai barang yang seakan bersinggungan dengan sendirinya. Beberapa kali bingkai-bingkai yang terpasang di dinding tak ada lagi di tempatnya walaupun sudah berulang aku pasang kembali.

Tadi saja sewaktu iseng mencari camilan di dapur, saat membuka kulkas, tiba-tiba piring terjatuh pecah berkeping-keping. Disusul nyala lampu yang teramat menyilaukan. Akhirnya aku memutuskan untuk lari kembali ke kamar. Mendekap tubuh di sudut tempat tidur, rasa takut mulai merayapi dan mengganggu pikiran. Tanpa berani membungkus tubuh dengan selimut, khawatir kalau ternyata akan ditarik oleh sesuatu yang entah, seperti kulihat di film film horor.

Insomnia yang belakangan ini mengganggu, kian menjadi, siang malam  tak dapat lelap sekejap pun. Saat jenuh melanda biasanya aku bersenandung, sambil menyisir rambut yang kini panjangnya melebihi pinggang. Mengenang kembali betapa indah hidup yang sebelumnya aku jalani bersama ayah dan ibu.

Lamat-lamat kutatap paras pucat yang hampir tidak aku kenali, ternyata separah ini pengaruh penyakit sulit tidur mengikis aura wajah. Sambil sesekali memicingkan mata, demi meyakinkan diri, pandanganku yang salah atau memang bayangan di cermin berubah ganda.

Saking terkejut dengan pantulan lain di seberang sana, sekelebat raut ketakutan berhias kelopak mata yang terbuka lebar dan mulut ternganga. Tubuhku sontak melonjak. Siapa itu? Lebih tepatnya apa yang baru saja kulihat? Apa mungkin, arwah takut dengan penampakan manusia?

Entah telah berapa waktu berlalu, sejak berkali kali diganggu oleh kejadian yang sama. Jangan sampai aku mengiyakan usul Bik Uti untuk memanggil cenayang ke rumah agar mengusir arwah gentayangan yang mulai membuat depresi.

Malam ini jam berdentang dua belas kali. Samar-samar tapi semakin jelas aku mendengar keributan di lantai bawah, tepatnya di ruang makan. Ragaku seakan terpanggil untuk mendekat walau tak mau, setengah terseret akhirnya aku melihat mereka sedang duduk melingkar sambil berpegangan tangan.

Wajah wajah asing yang sama sekali tidak aku kenal. Hanya bibik yang tampak berdiri di sisi ruangan, kedua tangan menggenggam bingkai yang terisi dengan fotoku. Tubuh tambunnya bergetar, sesekali terisak dan raut wajahnya jelas sekali ketakutan.

Salah satu dari mereka kelihatan sebaya denganku, sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tetapi lupa kapan dan di mana. Orang kedua dan ketiga kemungkinan adalah ayah dan ibu gadis itu. 

Sedangkan sosok keempat berpenampilan begitu misterius, kepalanya dibalut selendang berbentuk turban. Serangkaian aksesoris yang dipakai sepertinya beraliran gothic, mulutnya tak henti berkomat kamit.

Entah energi apa yang melingkupi ruangan ini, bagai tertarik gaya elektromagnetik, tubuhku meluncur mendekati mereka. Berkali kali aku berseru meminta tolong pada bibik, tapi ia memilih menutup mata. Tetiba saja aku terperangkap di tengah lingkaran, cahaya cahaya lilin yang tak tahu berjumlah berapa melemahkan pandanganku. 

"Dia sudah ada di sini," ucap perempuan berturban.

Aku meraung raung, merasakan nyeri di seluruh persendian, "Pergi, kalian semua, pergi!" 

Di tengah ketidakberdayaanku, tetiba pintu rumah terbuka. Ayah, Ibu, mereka saling berpelukan. Mengapa tiba tiba orang tuaku hadir di sini? Bukankah saat itu, perampok melepaskan dua tembakan yang menyebabkan ayah dan ibu rubuh? 

Aku sangat merindukan mereka, apakah bibik sudah memanggil cenayang untuk memanggil arwah orang tuaku? Namun, siapa mereka yang tengah duduk ketakutan di hadapanku. 

Dalam ribuan tanya, sambil menahan kesakitan di tengah kebingungan. Sambil berurai isak tangis yang dalam, ibu mengatakan sesuatu, "Pulanglah dengan tenang, Sayang, kami telah ikhlas."